Sunday, November 20, 2011

Di balik Dongeng Mina

Kisah Nabi Ibrahim AS menyembelih anak kesayangannya memang bukan dongeng biasa. Oleh karena itu, bersamaan dengan penyelenggaraan shalat Idul Adha, peristiwa itu selalu diperingati dengan menyembelih binatang kurban, baik oleh mereka yang sedang berhaji maupun yang tidak pergi melaksanakan jumrah di sana.

Itulah hebatnya sebuah dongeng suci. Seolah-olah peristiwanya tidak pernah usai dan maknanya selalu hidup karena ditafsirkan sepanjang masa. Agama boleh dibilang selalu dianggap dogmatik. Namun, para pengikutnya akan selalu menimba dari sumur wahyu tersebut, baik air kehidupan, air kebijakan, maupun mata air kebajikan bagi sesamanya.

Menyembelih binatang kurban adalah laku ritual simbolik. Sama halnya berpakaian ihram waktu melaksanakan haji atau bertenda sejenak dalam puncak ibadah haji itu di Arafah. Semua ini terserah apa hendak memaknai dan mengambil hikma darinya. Sebab, boleh jadi seseorang menjalankan ritual, tetapi yang dipentingkan barulah syarat dan rukunnya, tanpa tafsiran dan tanpa penghayatan subtantif, yakni pesan moralitas dan spiritual sebagai tujuan pokok dari ibadah yang kita laksanakan.

Masjidil_Haram20111104.jpg
Jemaah Haji melaksanakan shalat Jumat (4/11/2011) di Masjidil Haram, Arab Saudi. Pada Sabtu ini, jemaah haji akan melaksanakan wukuf di Padang Arafah.


SEMARAK KESALEHAN RITUAL

Saya sengaja mengawali dengan menegaskan pernyataan tersebut (dan lebih dari sekedar prihatin) sebab dalam keseharian ibadah kita memang kadang-kadang tampak paradoks, kalau tidak disebut membingungkan.

Pasalnya, apalagi kalau bukan kecendrungan keberagamaan, yang di satu segi bangsa ini di mana-mana semakin saleh dengan semaraknya ritual. Sementara itu, susah ditolak bahwa kita telah kehilangan sendi-sendi kebajikan sosial yang sangat ditekankan oleh agama.

Rasa permusuhan telah menyelimuti masyarakat. Agama seperti telah kehilangan daya pesannya untuk menghadang terkeping-kepingnya umat kita jatuh dalam sektarianistik, yang meruntuhkan rasa kasih sayang bagi sesama. Biarpun orang menyembelih binatang kurban, bahkan boleh dikatakan tidak surut jumlahnya, dibalik gejala yang menggembirakan ini, rasa pengorbanan yang selama ini menjadi penyangga solidaritas seolah-olah semakin hilang dari kehidupan masyarakat sehari-hari.

Tradisi menyembelih binatang kurban menjadi jauh maknanya dari moralitas "pengorbanan". Begitu pula banyaknya orang antre pergi bersujud di rumah Allah dengan berpakaian ihram bukan serta-merta merupakan perlambang kesadaran bahwa ideologi kesetaraan sosial adalah cita-cita kemanusiaan yang paling tinggi yang harus diperjuangkan bersama sebagai ciri haji mabrur.

Kalau diresapi, dongeng Mina--yaitu saat Nabi Ibrahim AS bersedia menyembelih anak kesayangannya tersebut--sesungguhnya bukanlah semata-mata ujian tentang keimanan. Namun, itulah kisah ini mengajarkan perlunya pengorbanan, perlunya berbagi dalam kehidupan ini.

Tuhan tidak membutuhkan sembelihan, tetapi keimanan vertikal akan hampa tanpa pengorbanan. Tuhan, melalui kisah ini, seolah-olah mengajarkan bahwa setiap manusia mempunyai kualitas iman karena penciptaannya yang sempurna. Namun, tidak setiap manusia bisa menemukan makna iman itu, tanpa pengorbanan, tanpa keperdulian dari orang lain. Itu karena pada dasarnya setiap orang bukanlah sosok personal yang berdiri sendiri.

Dalam kehidupan ini, selalu ada "mereka" yang membutuhkan sapaan dan bahkan tanggung jawab kita. Saya kira inilah prinsip dasar moralitas kesalehan yang manusiawi, yang universal, yang dapat dijadikan sebagai pilar kehidupan bersama.


KESALEHAN SOSIAL

Keimanan, kesalehan, dan tanggung jawab sosial, barangkali inilah nilai martabat yang paling tinggi. Namun, dalam dunia yang berubah materialistik sekarang ini, mempunyai martabat semacam itu tidaklah semudah mendengarkan khotbah.

Tantangan terberat tatkala tatanan etika dan moral menjadi kabur, bahkan tumpang tindih.

Sungguh ironis, misalnya, jika seseorang akhirnya tidak merasa berdosa--bahkan merasa lebih banyak pahala--kalau telah banyak bersedekah biarpun sedekah mereka berasal dari uang korupsi.

Dilihat dari sudut ini, pesan agama seharusnya tidak cukup hanya menganjurkan, mendorong, atau menjanjikan surga bagi mereka yang gemar menyisihkan kekayaannya untuk bersedekah. Atau bagi yang lebih banyak menjamu anak yatim atau agar setiap tahun menyembelih binatang kurbah. Lebih dari itu, agama harus berani berbicara hubungan antara kesucian diri, kesalehan, dan keadilan menjadi jelas kaitannya.

Dalam hal ini, misalnya hanya mau membincangkan dan menuntun bagaimana caranya orang menjadi saleh, tanpa mengingatkan bahwa kesalehan seseorang akan batal di depan Allah SWT jika biayanya diperoleh dari cara-cara yang tidak halal, apalagi merugikan orang lain.

Dongeng Mina setiap tahun memang harus kita kenang. Kita peringati dengan menyembelih binatang kurban. Makna di balik peristiwa itu pun memang harus kita gali sedalam-dalamnya.

Bisakah makna kesetiaan dan pengorbanan Nabi Ibrahim AS tersebut kita tuturkan kembali di depan realitas kehidupan bangsa ini, dan menjadi inspirasi perubahan? Jawabannya tentu adalah tergantung dari kita sendiri. Sebab, setiap dongeng sesungguhnya tidak berbicara tentang kisahnya sendiri.

Di sana ada horizon makna, ada perspektif yang tak bertepi, dan juga ada kekuatan profetik yang bisa diproduksi dalam zaman yang berbeda-beda. Oleh karena itu, jika kita mau menuturkan kembali dongeng Mina sebagai ide perubahan, sudah tentu tidak sia-sialah Nabi Ibrahim AS telah mewariskan kisah ini. Sebab, kisah ini tidak hanya menjadi tradisi, tetapi akan memberikan inspirasi peradaban, yakni betapa pentingnya nilai berbagi dan berkorban dalam kehidupan ini.

Oleh MOESLIM ABDURRAHMAN.
CENDIKIAWAN MUSLIM, JAKARTA
AL-MAUN INSTITUTE, JAKARTA

Sumber:
Kompas, Halaman 1
Sabtu, 05 Nopember 2011
08 Pahing Besar 1944
09 Dzulhijjah 1432 H

Artikel Lainnya:
Beranda (Home)
Toko Image Gambar
Ketika Malaikat Bicara Haji 
Di balik Dongeng Mina
Manfaat Puasa Bagi Kesehatan
Bacaan dan Cara Mengerjakan Shalat
Bimbingan Wudhu dan Tayammum
Muzzaki 
Misteri Santet dan Poligami
Poligami Siapa Takut?
Tafsir Qur'an Per Kata
Menikah dengan Ratu Jin Cantik
Sejarah Satu Muharram
Sejarah Imlek
Tahun Kabisat
Suiseki Asal Indonesia
Oh Messias
Makna Al-Masih 
Doa dan Ucapan Syukur
Pray for Japan
Misteri Alien 
Akik Gambar Hantu Wewe Gombel
Akik Gambar Hantu Pocong
Tuyul
Keris
Daftar Film dan Sinopsisnya
Kalender, Hari Libur dan Bersejarah
Toko Image Gambar
Ke Beranda (Back to home)

Cara Mengambil Nilai pada Auto Increment di Mysql

Cara mengambil nilai atau angka yang tersimpan pada Auto Increment di Mysql adalah sebagai berikut: