Friday, March 1, 2013

Kaizen ( 改善) adalah Continuous Improvement

Pembaca yang budiman, pada saat ini penulis ingin memaparkan tentang istilah "KAIZEN" (改善) dalam bahasa Jepang atau "Gaishan" (改善) dalam bahasa Mandarin atau "Continuous Improvement" dalam bahasa Inggris atau "Muamalah" (المبادئ) / "Istiqomah" dalam bahasa Arab atau "Di nu Kiwari Ngancik nu Bihari, Seja Ayeuna Sampeureun Jaga, anu hartina naon-naon anu karasa ku urang poé ieu téh hasil usaha poé kamari, jeung naon anu dipigawé ku urang poé ieu mangrupa tarékah pikeun  ngahontal poé isuk nu leuwih punjul." dalam bahasa Sunda. Kaizen adalah sebuah usaha perbaikan yang berkelanjutan, dan terus menerus dalam seluruh proses bisnis, bursa, kenegaraan, industri, militer, penelitian, ajar-mengajar, dan sebagainya. Istilah Kaizen ini pertama kali diterapkan di industri manufaktur sebagai jawaban atas persoalan mengenai munculnya hasil produk yang cacat atau kualitas kurang bagus.

Sasaran perbaikan dari filosofi kaizen adalah semua yang berkaitan dengarn QCD, yaitu Quality, Cost and Delivery. Ketika pada suatu pos rangkaian atau pada proses manufakturing ada suatau permasalahan yang mempersulit atau memperlambat kegiatan manufakturing, maka untuk menjawab permasalahan tersebut, biasanya dapat ditemukan secara langsung oleh karyawan di lapangan saat proses manufakturing berjalan. Karena proses manufakturing di lapangan mereka yang mengetahuinya, maka partisipasi dari merekalah Kaizen menjadi kunci utama untuk perbaikan berkelanjutan. Bukan sebaliknya malah dibiarkan, diamputasi, dibungkam, diintimidasi, dikorupsi atau diselewengkan.

Kaizen dapat diterapkan pada filosofi perbaikan berbagai hal, misalnya yang dimulai dari diri sendiri, keluarga, kerabat, orang lain, bangsa/negara sendiri, dan mancanegara.

Evaluasi dan instropeksi diri sendiri adalah yang paling penting. Kaizen diri sendiri dapat di mulai dari perbaikan komunikasi, sadar bahwa manusia adalah makhluk sosial, tata krama, saling menghormati, teloransi, kejujuran, kerajinan, etika, pola pikir, visi, misi, keuangan, dan sebagainya dengan tujuan membawa ke masa depan yang lebih baik.

Bangsa dan Negara yang dimulai dari sebagai warga negara yang baik, pemuka atau tokoh yang berahklak baik, wakil rakyat atau penyambung lidah rakyat yang memiliki integritas, kredibilitas, tata negara, cita-cita sebagai negarawan, menjadi teladan, jujur, sopan, santun, cepat, tepat, konsisten, dapat memimpin, mengasihi, melayani, dan sebagainya. Berbagai lembaga dan departemen negara pun harus bersinergi, bersatu, dan selalu siap dalam membangun, menguntungkan negara, dan memakmurkan rakyatnya.
Misalnya saja lembaga superbody, KPK harus bersinergi dengan Kepolisian, Kejaksaan dan lembaga hukum lainnya. KPK harus menggunakan Keizen dengan tingkat ketelitian dan kehati-hatian yang tinggi agar KPK tidak terlihat pro ke lembaga negara, partai dan LSM tertentu atau sebaliknya menjadi diskriminatif terhadap perorangan, lembaga negara, partai dan LSM tertentu. Sebagai contoh bocornya sprindik yang menyatakan Anas Urbaningrum (sekarang mantan Ketua Umum Partai Demokrat) sebagai tersangka. Sprindik ini akhirnya terlihat seakan-akan pro pada partai yang berkuasa.
KPK, PPATK, dan BPK juga harus menginvestivigasi keuangan yang didapat oleh negara melalui pajak, pendapatan daerah, laba dari BUMN-BUMN dan sebagainya. Investivigasi terhadap bantuan ke parpol. Dikutip dari harian Kompas, tanggal 01-Maret-2013, Halaman 6, Kolom Opini, yang menyatakan bahwa adanya bantuan sosial hingga 400 trilun Rupiah lebih, tetapi tetap saja anggota dewan dari partai politik melakukan sikap tidak terpuji, seperti korupsi, menyalahgunakan kekuasaan, intervensi pihak penguasa, kawin terus, kebal hukum (Gantung Saya di Monas atau Saya sediakan peti mati jika sepeser uang masuk ke kantong saya, dsb) dan sebagainya. BUMN-BUMN yang dikelola juga mendapat subsidi triliunan rupiah, tetapi tetap saja BBM/LPG/PLN/Air/dsb harganya naik. Kemudian laba yang dihasilkan hingga kini masih tidak bisa untuk membayar hutang negara yang mencapai 2.100 triliun Rupiah lebih. Secara global uang yang berhasil dikumpulkan oleh negara bisa mencapai 6.000 (enam ribu) triliun Rupiah, melalui:
Pajak............ Rp 2.000 Triliun lebih
Pinjaman....... Rp 2.000 Triliun lebih
Lain-lain........ Rp 2.000 Triliun lebih
                ====================== +
Total............. Rp 6.000 Triliun lebih belum termasuk Yayasan, DAU, PMI, LSM, atau uang-uang goib yang berhasil dikumpulkan oleh mereka.
Pemanfaatan Enam Ribu Triliun Rupiah ini melalui APBN 2012/2013 hanya Dua Ribuan Triliun saja dan sisanya Empat Ribu Triliun Rupian tidak jelas disimpan dimana dan dimanfaatkan untuk apa. Pemanfaatan APBN 2012/2013 pun banyak yang janggal, tidak jelas dan tidak merata, misalnya saja jalan protokol berlubang dan hampir saja penulis mengalami kecelakaan, karena tidak mengetahui jalan protokol kok bisa berlubang yang membuat sepeda motor menjadi oleng dan hampir menabrak pengendara lain di jalan tersebut. Yang anehnya lagi menambah polisi tidur/tanggul-tanggul di jalan dapat dilakukan, tetapi jalan berlubang tidak diperbaiki??? Uang triliunan Rupiah tersebut diparkir dimana ya? Apakah didepositokan atau diinvestasikan??? Atau sulit sekalikah mencairkan anggaran dari negara atau diperlukan mafia anggaran??? Sebenarnya siapa sih yang perlu mengawasi penyelenggaraan negara atau siapa sih yang harus mengeksekusi suatu kegiatan untuk memakmurkan rakyatnya??? Benar-benar terlalu!

Berikut ini adalah istilah-istilah, konsep Keizen, dan sebagainya.

Konsep KEIZEN adalah suatu panduan untuk memperbaiki suatu proses dalam meningkatkan kinerja, yang dilakukan secara terus menerus dan selalu melakukan evaluasi atas apa yang telah dicapai pada masa lalu, untuk memperbaiki masa kini, dan selanjutnya mencapai hal yang terbaik pada masa yang akan datang, dimana rencana pencapaian pada masa yang akan datang, melalui indentifikasi terhadap hambatan yang terjadi.

Langkah yang diambil di dalam teori KEIZEN adalah :
1. Melakukan pengukuran terhadap operasional standard
2. Memperbarui standard, dan meningkatkan operasional
3. Mengukur atau menilai operasional standard yang diperbarui
4. Melakukan penilaian atau pengukuran terhadap persyaratan untuk penilaian terhadap operasional standard
5. Melanjutkan pekerjaan tersebut (1), (2), (3) dan (4), secara terus menerus atau berkelanjutan.

Lakukanlah suatu pekerjaan untuk mencapai hasil yang terbaik, dimana hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan esok harus lebih baik dari sekarang. Setelah diamati, ternyata teori KEIZEN tersebut, dapat diterapkan ke seluruh perusahaan, yang mana motivator atau mentornya adalah Human Resources, yang dapat memberikan arahan secara global dan untuk detailnya, adalah Manager atau Kepala Divisi dari masing-masing departemen, sehingga tujuan yang ditetapkan oleh suatu perusahaan dapat tercapai.

Kelemahan dari teori KEIZEN, adalah:
1. Tidak terdapatnya, bagaimana cara mentransfer apa yang diinginkan sehingga terdapatnya persepsi yang sama.
2. Tidak adanya kajian atau penjelasan mengenai implementasinya

Kaizen menekankan pada upaya manusia, moral, komunikasi, pelatihan, kerja sama, pemberdayaan dan disiplin diri, yang merupakan pendekatan peningkatan berdasarkan akal sehat, berbiaya rendah.
Komitmen Kualitas. Sasaran akhir kaizen adalah tercapainya Kualitas, Biaya, Distribusi (Quality, Cost, Delivery -- QCD), sehingga pada praktiknya kaizen menempatkan kualitas pada prioritas tertinggi. Kaizen mengajarkan bahwa perusahaan tidak akan mampu bersaing jika kualitas produk dan pelayanannya tidak memadai, sehingga komitmen manajemen terhadap kualitas sangat dijunjung tinggi. Kualitas yang dimaksud dalam QCD bukan sekedar kualitas produk melainkan termasuk kualitas proses yang ditempuh dalam menghasilkan produknya.
Orientasi Proses, Kaizen menekankan bahwa tahap pemrosesan dalam perusahaan harus disempurnakan agar hasil dapat meningkat, sehingga dapat disimpulkan bahwa filsafat ini mengutamakan proses.Dalam kaizen dipercaya bahwa proses yang baik akan memberikan hasil yang baik pula.

Salah satu langkah awal penerapan kaizen adalah menjalankan siklus Plan-Do-Check-Act (PDCA) untuk menjamin terlaksananya kesinambungan kaizen. Siklus ini terdiri atas : 1) Rencana (plan), Penetapan target untuk perbaikan dan perumusan rencana tindakan guna mencapai target tersebut. 2) Lakukan (do), Pelaksanaan dari rencana yang telah dibuat.. 3) Periksa (check), Kegiatan pemeriksaan segala prosedur yang telah dijalankan guna memastikannya agar tetap berjalan sesuai rencana sekaligus memantau kemajuan yang telah ditempuh. 4) Tindak (act), Menindaklanjuti ketiga langkah yang ditempuh sekaligus memutuskankan prosedur baru guna menghindari terjadinya kembali masalah yang sama atau menetapkan sasaran baru bagi perbaikan berikutnya.
Siklus PDCA berputar secara terus menerus dengan diselingi oleh siklus Standardize-Do-Check-Act (SDCA) di antaranya. Dalam langkah Standar (Standarize) pada siklus ini, segala prosedur baru yang telah diputuskan pada langkah Tindak dalam siklus PDCA sebelumnya disahkan menjadi pedoman yang wajib dipenuhi. SDCA fokus pada kegiatan pemeliharaan, sedangkan PDCA lebih mengacu pada perbaikan.
Berbicara dengan Data, masalah yang terjadi baru dapat ditemukan pemecahannya dengan mengumpulkan dan mengobservasi berbagai data yang berkaitan dengan masalah tersebut. Tanpa adanya data yang terintegrasi dan relevan, manajemen tidak dapat menemukan solusi yang paling efektif.

Proses adalah Konsumen, dimana terdapat dua macam konsumen dalam kaizen: 1) Konsumen internal, 2) Konsumen yang berada di perusahaan. Yang dianggap sebagai konsumen internal adalah proses, sehingga proses harus diperhatikan dan diperlakukan layaknya konsumen secara nyata. Konsumen eksternal, Konsumen yang berada di pasar, baik individu maupun organisasi. Sasaran akhir kaizen adalah tercapainya Quality, Cost, Delivery (QCD) secara efektif dan efisien.

Kaizen adalah suatu filosofi dari Jepang yang memfokuskan diri pada pengembangan dan penyempurnaan secara terus menerus atau berkesinambungan dalam perusahaan bisnis. Kaizen melibatkan pemodal, karyawan dan manajer semua lini dalam perusahaan untuk pengembangan perusahaan ke arah yang lebih baik. Kaizen berasal dari Bahasa Jepang yaitu kai artinya perubahan dan zen artinya baik. Di Cina kaizen bernama gaishan di mana gai berarti perubahan / perbaikan dan shan berarti baik / benefit. Kaizen merupakan aktivitas harian yang pada prinsipnya memiliki dasar sebagai berikut:

1. Berorientasi pada proses dan hasil.
2. Berpikir secara sistematis pada seluruh proses.
3. Tidak menyalahkan, tetapi terus belajar dari kesalahan yang terjadi di lapangan.

Untuk ukuran Indonesia, teori ini mungkin akan agak sulit untuk diimplementasikan karena anggapan dan budaya kebanyakan orang yang nerimo saja dan juga mudah puas atas prestasi yang telah dicapai. Jarang ada karyawan atau buruh yang mau bekerja tambahan dengan memikirkan hal-hal tentang kemajuan perusahaan tanpa dibayar sepeserpun Istilah kaizen atau Just in Time ini kerap kali digunakan sebagai salah satu strategi perbaikan dalam manajemen kualitas dan alternative management yang selama ini didominasi oleh Negara barat dan Amerika, namun dalam perkembangannya system manajemen ini mendapat perhatian para analis manajemen setelah melihat perkembangan yang pesat ekonomi jepang yang kerap kali merepotkan hegemoni amerika dalam percaturan ekonomi global.

Fenomena pertumbuhan ekonomi jepang pasca PD II memberikan motivasi pembangunan kembali dari puing peperangan dan diutuslah seorang ahli survey AS yang bernama Dr. W. Edward Deming yang mencoba membantu Jepang untuk pembangunan kembali ekonomi Jepang sehingga konsep Deming mulai tahun 1970-an telah diterapkan oleh perusahaan Jepang yang terkenal dengan “14 kunci Dr. Deming” dan anehnya sukses penerapan konsep deming di industri jepang pemerintah AS baru tertarik pada konsep tersebut. Namun konsep deming yang Kemudian lebih dikenal dengan konsep kaizen secara luas baru diperkenalkan oleh Masaaki Imai dalam bukunya “Kaizen : the key to Japan’s competitive success” (1986).

Coba kesimpulan Europe Japan Centre tentang Kaizen Jepang yang mengungkapkan bahwa:

“Kaizen mengatakan kepada kita bahwa hanya dengan secara terus menerus tetap sadar dan membuat beratus-ratus ribu peningkatan kecil, maka dimungkinkan untuk menghasilkn barang dan jasa yang mutunya otentik sehingga memuaskan pelanggan. Cara paling mudah mencapainya adalah dengan keikutsertaan, motivasi dan peningkatan terus menerus dari masing-masing dan semua karyawan dalam organisasi. Keikutsertaan staf tergantung pada komintmen manajemen senior, strategi yang jelas dan ketabahan - karena kaizen bukan jalan pintas melainkan proses yang berjalan secara terus menerus untuk menciptakan hasil yang diinginkan”. (Cane, 1998:265)

Dengan pertumbuhan ekonomi Jepang berdampak pada dorongan negara Asia lainnya untuk terus mengejar ketertinggalannya, lalu bagaimana dengan Negara Indonesia sendiri yang terlihat malah semakin terpuruk pasca reformasi tahun 1999 bahkan untuk mengejar negeri jiran sekalipun terasa sangat berat sekali kunci keunggulan perusahaan jepang adalah sangat unggul dalam persaingan salah satu kemampuannya adalah menghilangkan pemborosan dan menghindari berbagai kesulitan sedangkan AS sebaliknya mengalami kesulitan dalam menghemat Sumber Daya Alam yang memang sangat melimpah bila dibandingkan Jepang sehingga istilah perbaikan mutu secara terus menerus (Just in time) tidak berlaku bagi manajemen Amerika tapi lebih cenderung just in case.

Kaizen atau perbaikan secara terus menerus selalu beriringan dengan Total Quality Management (TQM). Bahkan sebelum filosofi TQM ini terlaksana atau sebelum system mutu dapat dilaksanakan dalam suatu perusahaan maka filosofi ini tidak akan dapat dilaksanakan sehingga perbaikan secara terus menerus (Just in time) ini adalah usaha yang melekat pada filosofi TQM itu sendiri. Sehingga Kaizen bisa juga merupakan suatu kesatuan pandangan yang komprehensif dan terintegrasi yang memiliki ciri khas : 1) Berorientasi pada pelanggan., 2) Pengendalian mutu secara menyeluruh (Total Quality Management), 3) Robotik, 4) Gugus kendali mutu, 5) System saran, 6) Otomatisasi, 7) Displin ditempat kerja, 8) Pemeliharan produktiftas, 9) Penyempurnaan dan perbaikan mutu. 10) Tepat waktu 11) Tanpa cacat, 12) Kegiatan kelompok kecil, 13) Hubungan kerjasama antara manajer dan karyawan, 14) Pengembangan produk baru, 15) Kunci pelaksanaan Kaizen

Secara garis besar ada delapan kunci utama pelaksanaan just in time atau kaizen dalam kegiatan industri yaitu :
1.Menghasilkan Produk sesuai dengan yang didasarkan pada permintaan pelanggan
2.Memproduksi dalam jumlah kecil
3.Menghindari pemborosan
4.Memperbaiki aliran produksi
5.Menyempurnakan kualitas produk
6.Orang-orang yang tanggap
7.Menghilangkan ketidakpastian
8.Penekanan pada pemeliharaan jangka panjang

Istilah lain yang bertujuan mengimbangi system kaizen ini adalah reengineering yaitu mengadakan perombakan proses bisnis secara total sampai keakar-akarnya dan system ini diciptakan Amerika untuk mengejar ketinggalannya dari Jepang yang pernah dibantu ekonominya, baru kalau perombakan ini telah dilakukan maka pemeliharaan dan peningkatan secara terus menerus dan berkesinambungan dapat dilaksanakan. Bisa juga menerapkan konsep benchmarking yaitu cara untuk mengadakan perbaikan dengan meniru praktek bisnis terbaik dikelasnya, baik untuk produksi, jasa maupun proses dan sistemnya.

Dampak positif Kaizen :
1. Setiap orang akan mampu menemukan masalah dengan cepat.
2. Setiap orang akam memberikan perhatian dan penekanan pada tahap perencanaan.
3. Mendukung cara berfikir yang berorientasi proses.
4. Setiap orang berkonsentrasi pada masalah-masalah yang lebih penting dan memdesak untuk diselesaikan.
5. Setiap orang akan berpartisipasi dalam membangun sistem yang baru.

Kaizen sesungguhnya berawal dari ungkapan umum, ungkapan sehari hari sebagaimana kita memiliki kata "perbaikan" dalam Bahasa Indonesia.
Kata atau istilah kaizen bukan sesuatu yang muncul secara khusus untuk sebuah metode perbaikan, akan tetapi memang merupakan budaya keseharian Jepang untuk melakukan perbaikan, dalam hal apa apa pun.
Mengapa Kaizen menjadi istimewa, sebenarnya adalah karena perilaku orang Jepang di dalam melakukan perbaikan, "tidak pernah berhenti", bukan sepert kita yang melakukan perbaikan secara sporadis, atau lebih tepatnya, bersifat reaktif, bila suatu kesalahan sudah menjadi masalah, kita baru bertindak.
Akan tetapi, perilaku Jepang ada yang disebut dengan "warusa kagen" yang bila diterjemahkan sama dengan proaktif.
Apa yang mereka lakukan sebagai tindakan proaktif adalah, mencari dimana saja ada masalah yang tersembunyi, tidak menunggu sampai menjadi masalah yang menghambat. Untuk mengenali masalah, mereka membuat 7 acuan, seperti melakukan secara berlebihan, melakukan gerakan herakan / aktivitas yang tidak bernilai dan seterusnya.
Kemudian, justru orang orang non Jepang yang kemudian mempelajari kaizen secara intens, menambahkan 1 kemubaziran yang belum diungkap oleh orang Jepang, dan hal ini lebih terkait pada konsep HR Management, yaitu "talent / kompetensi yang tidak termanfaatkan secara optimal".
Bahkan dalam salah satu forum diskusi tentang kaizen, yang digagas oleh orang Non Jepang, kini mulai mengajukan pertanyaan "apa lagi kemubaziran yang ke 9?"
Nah, untuk melakukan berbagai upaya perbaikan, dimunculkanlah berbagai konsep, yang disebut sebagai Kaizen tools.
Dalam dunia industri, yang pertama kali sebagai upaya resmi adalah Statistical Quality Control yang diperkenalkan oleh Edward Deming dan Josep Juran, pada tahun 1950-an.
SQC lebih menjurus pada analisa Pareto, yang menganjurkan pemecahan masalah dari kasus yang paling dominan.
Akan tetapi, Kaoru Ishikawa kemudian membuat pernyataan, bahwa tidak ada satu masalah pun yang muncul akibat hanya satu penyebab, akan tetapi pasti dimunculkan oleh berbagai faktor yang menjadi penyebab. Untuk itu harus dilakukan analisa mencari akar masalah, dan dia memperkenalkan konsep tulang ikannya (Ishikawa Fishbone).
Kemudian muncul kesepakatan untuk menggabungkan SQC dengan konsep tulang ikan, hasilnya adalah konsep Total Quality Control.
Kemudian mengenai Just in Time, adalah bermula dari pemikiran Mr. Toyoda dan Taichi Ohno, ketika mereka mengunjungi pabrik otomotive Amerika. Mereka minder karena Toyota tidak memiliki fasilitas bangunan gudang yang besar besar seperti GM, Ford yang mampu menyimpan stok barang begitu banyak. Mereka lalu berpikir keras, bagaimana caranya agar Toyota yang tidak memiliki gudang banyak, tetap mampu berproduksi dengan skala besar tetapi tetap lancar.
Ide awalnya muncul ketika Mr. Toyoda mengunjungi salah satu supermarket di Amerika, dia memperhatikan, bagaimana stok barang di rak tidak pernah kosong, walaupun sebentar-sebentar, barangnya dibeli oleh konsumen.
Untuk menjamin pasokan selalu masuk pada saat barang belum habis, mereka menciptakan sistim Kamban.
Namun secara keseluruhannya upaya tersebut, kemudian disebut sebagai Just in time.
Oleh karena itu, Just in time adalah merupakan salah satu dari Kaizen Tools.
Demikian penjelasan awal secara ringkas tentang kaizen, Untuk kebih lengkapnya, silahkan mengikuti trainingnya, yang bahkan dalah konsep HR pun, saya sudah memasukkan bagaimana konsep kaizen dapat diimplementasikan.

Artinya, dengan KAIZEN setiap karyawan harus kreatif dan inovatif untuk mengembangkan perusahaan agar lebih efektif dan efisien tanpa melanggar SOP yang ada.
Contoh kecilnya, pemanfaatan kertas bekas untuk dipergunakan kembali. Mungkin banyak yang tidak sadar bahwa hal kecil ini termasuk dalam konsep KAIZEN, tetapi dengan pemanfaatan kertas, artinya cost yang keluarpun menjadi efisien.
Banyak perusahaan yang ingin mengembangkan teknologi atau project besarnya melalui jasa konsultan, tetapi di perusahaan jepang biasanya memanfaatkan ide-ide karyawannya sendiri melalui KAIZEN.
For company cost yang dikeluarkan jauh lebih murah tapi ide atau konsep yang dikeluarkan bisa sama hebatnya dengan menyewa konsultan.
Itu tadi sedikit pengetahuan dan pengalaman saya dalam menerapkan kaizen. Semoga bermanfaat.

Sumber:
http://www.linkedin.com/groups/Seberapa-jauh-anda-mengenal-konsep-4174512.S.87474221

Artikel Lainnya:
Beranda (Home)
Toko Image Gambar
Drones
Dirgahayu Republik Indonesia Ke-69
Jokowi
ABS (Asal Bapak Senang)
Isi Ulang
Oh Messias
Rahasia Sukses
Shift the Belief System, and You Shall Shift The Person
Pemikiran Negatif Tak Akan Melahirkan Ide Positif
Masa Kronis di Ibukota DKI Jakarta
Pemerintah Tidak Pernah Serius
Sebuah Mainan Untuk Harapan
Saatnya Berinovasi
Ojo Nesu-Nesu!!!
Kaizen ( 改善) adalah Continuous Improvement
Ghost (유령) atau Hantu
Ghost Equipment atau Perlengkapan Hantu
Daftar Film dan Sinopsisnya
Misteri Tsunami (Ponyo)
Republik Gayus
Buku Membongkar Gurita Cikeas
Ini Moneter Baru
Ini Saluran Televisi Baru
Ini Partai Baru
Whistleblower
10 Macam Sumpah
Di balik Dongeng Mina
Ketika Malaikat Bicara Haji
Ethanol di Brazil Sudah 30 Tahun, Indonesia Kapan?...
Yang Unik dari The Hunger Games - Burung Mockingjay, Burung Jabberjay, Burung Mocking dan
Fantastic Beast & Where to Find Them 
Lintah atau Pacet
Monyet Yang Lucu
Kucing Garong
Semur Khas Indonesia
Koleksi Batu-Batu Permata memang sangat menyenangkan Hati
Hobby Selfie Positif Tidak Akan Melahirkan Exhibitionist
Pandan Suji
Beautiful Picture 89
Toko Image Gambar
Ke Beranda (Back to home)